Terbaru

BI Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi Sumsel

Perbaikan harga komoditas mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi Sumsel | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Axa

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Axa

Deputi Direktur Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah Bank Indonesia Perwakilan Sumsel M Seto Pranoto mengatakan perbaikan harga komoditas andalan seperti batubara memang cukup mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi Sumsel.

Seto menambahkan pencapaian pertumbuhan ekonomi yang melampaui proyeksi itu belum membuat bank sentral merevisi proyeksi perekonomian Sumsel pada tahun ini.

"Angka 5,03% itu bagus, masih dalam momentum pertumbuhan yang kami perkirakan meski lebih sedikit, tapi kan itu bagus kalau lebih," katanya, Senin (6/2/2017).

Namun demikian, pihaknya semakin optimistis Sumsel bisa mencetak pertumbuhan ekonomi hingga 6% pada tahun ini.

"Sangat mungkin Sumsel bisa di atas 6% pada tahun ini, kita lihat dulu perkembangannya," katanya.

Apalagi, kata dia, investasi yang masuk ke provinsi tersebut bakal semakin marak mulai tahun ini sebagai persiapan menyambut Asian Games 2018 di Palembang.

Ekonomi Sulsel Melaju 7,41% Sepanjang 2016 | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Axa

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Axa

Kepala BPS Sulawesi Selatan Nursam Salam mengatakan struktur pertumbuhan tersebut masih didominasi oleh empat sektor usaha meliputi agribisnis, industri pengolahan, perdagangan serta konstruksi.

 Perekonomian Sulawesi Selatan sepanjang 2016 mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,41% atau lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berada pada level 7,17%.

Dia menjelaskan, laju pertumbuhan sektor jasa keuangan itu ditopang langkah perbankan yang memacu penyaluran kredit yang mana memperbesar akses pinjaman bagi UMKM serta menurunkan bunga kredit.

Secara terperinci, kontribusi sektor agribisnis terhadap struktur perekonomian Sulsel sepanjang 2016 mencapai 23,29% kemudian industri pengolahan 13,92%, perdagangan 13,41% lalu konstruksi sebesar 12,53% serta selebihnya berasal dari sektor lainnya.

"Sebagian besar sektor usaha di Sulsel kinerjanya positif sepanjang 2016, meski sektor-sektor penopang tidak terlalu besar pertumbuhannya. Adapun laju pertumbuhan tertinggi ada pada sektor jasa keuangan yang mencapai 13,63% sepanjang tahun lalu," paparnya, Senin (6/2/2017).

Menurut Nursam, kondisi itu mampu menstimulus perekonomian Sulsel mampu tumbuh secara moderat meski pertanian sebagai sektor utama Sulsel hanya mampu bergerak 0,84% sepanjang tahun lalu.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Sulsel sepanjang tahun lalu juga didukung kinerja energi yang meningkat 11,52% seiring dengan operasional pembangkit listrik yang lebih maksimal, laju investasi bidang kelistrikan yang naik cukup tinggi, penambahan sambungan baru pengguna listri hingga impor mesin dan peralatan listrik dalam nilai yang cukup besar.

Pertumbuhan ekonomi Sulsel sepanjang 2016 tersebut relatif lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi bank sentral yang berada di kisaran 7,5% - 8%.

Kemudian dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi motor penggerak perekonomian Sulsel sepanjang 2016 yang mana masing-masing tumbuh 5,48% dan 7,02%. 

Menurut Kepala Bank Indonesia Provinsi Sulsel Wiwiek Sisto Widayat, belum optimalnya perfroma perekonomian daerah ini selain dipicu harga komoditas yang belum stabil maupun situasi ekonomi nasional yang masih dalam tahap pemulihan, juga disebabkan perekonomian yang masih terkonsentrasi di Makassar.

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Wiwiek, sejumlah langkah strategis mesti segera direalisasikan pemerintah daerah meliputi pemerataan pembangunan infrastruktur hingga penyusunan kerangka acuan terkait komoditas maupun usaha unggulan masing-masing kabupaten/kota di Sulsel.

"Makassar sangat dominan dari sisi kontribusi PDRB serta indikator perekonomian lainnya. Kondisi ini ikut memicu perekonomian Sulsel cenderung masih tertahan secara kumulatif," katanya.

"Harus ada kerja sama antar kota dan kabupaten agar pembangunan tidak terkonsentrasi pada satu tempat saja. Jika hal ini bisa direalisasikan tahun ini, laju pertumbuhan hingga 8% terbuka lebar untuk Sulsel," katanya.

Menurutnya, pengembangan secara optimal dan terukur menjadi alternatif Sulsel untuk lebih menggenjot perekonomian Sulsel sekaligus memperbesar kontribusi kabupaten/kota lain selain Makassar terkait struktur perekonomian daerah.