Terbaru

Gubernur BI: Uang Rupiah Tidak Memuat Simbol Terlarang Palu dan Arit

Rectoverso merupakan bagian dari unsur pengaman uang Rupiah | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang


Gambar yang selama ini dipersepsikan sebagaian pihak sebagai lambang dari komunisme itu merupakan  gambar saling isi atau rectoverso yang merupakan bagian dari unsur pengaman uang Rupiah. Gambar yang tertera pun sebenarnya adalah logo Bank Indonesia yang dipotong secara diagonal sehingga membentuk ornamen yang tidak beraturan. 

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo menegaskan kembali bahwa uang Rupiah tidak memuat simbol terlarang palu dan arit.

"Unsur pengaman dalam uang rupiah bertujuan agar masyarakat mudah mengenali ciri-ciri keaslian uang, sekaligus menghindari pemalsuan," katanya dalam pernyataan resmi melalui rilis, Selasa (10/1/2017).

Agus menegaskan pula bahwa rupiah merupakan salah satu lambang kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Uang rupiah juga ditandatangani bersama oleh Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan Republik Indonesia. 

"Untuk itu, Bank Indonesia mengingatkan kembali kepada masyarakat agar senantiasa menghormati dan memperlakukan uang rupiah dengan baik," ucapnya.

Gambar rectoverso dicetak dengan teknik khusus sehingga terpecah menjadi dua bagian di sisi depan dan belakang lembar uang dan hanya dapat dilihat utuh bila diterawang. Dia menjelaskan rectoverso umum digunakan sebagai salah satu unsur pengaman berbagai mata uang dunia, mengingat rectoverso sulit dibuat dan memerlukan alat cetak khusus. 

Rectoverso juga telah digubakan sebagai unsur pengaman Rupiah sejak 1990-an. Sementara, logo BI telah digunakan sebagai rectoverso uang rupiah sejak  2000.

Uang Palsu Meningkat, Alasan BI Keluarkan Pecahan Baru | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta, Arief Budi Santosa mengakui, belakangan ini tren penemuan uang palsu khususnya di Yogyakarta mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan ini lebih karena terungkapnya pemalsuan uang dalam jumlah yang cukup besar.

Bank Indonesia belum lama ini mengeluarkan pecahan uang baru. Tujuannya untuk menggantikan uang pecahan yang kini sudah beredar di masyarakat. Selain itu, keluarnya uang pecahan baru tersebut juga untuk mengurangi jumlah pemalsuan, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta yang terus mengalami peningkatan.

Ia menyebutkan, dalam tiga tahun terakhir terjadi lonjakan jumlah penemuan uang palsu di masyarakat. Tahun 2014 yang lalu, jumlah uang pecahan yang dipalsukan dan menjadi temuan sebanyak 1.976 lembar. Di tahun 2015 mengalami peningkatan hingga hampir dua kali lipat.

"Tren selalu naik dalam tiga tahun terakhir," paparnya ketika melakukan sosialisasi emisi uang 2016 kepada awak media dan mahasiswa di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta, Jalan Panembahan Senopati, Senin (9/1/2017).

Arief menandaskan, keluarnya uang pecahan baru akhir tahun lalu memang sangat pas untuk Yogyakarta. Karena pihaknya menargetkan untuk selalu mengurangi pemalsuan uang pecahan dari Bank Indonesia tersebut. Meski sejumlah pertanyaan ramai dibicarakan di media sosial terkait uang baru tersebut, ia yakin rupiah emisi 2016 mampu meminimalisasi pemalsuan uang.

"Pengamanan yang berlebih, mulai desain hingga ada pengaman khusus. Jadi sangat susah untuk dipalsukan," tandasnya.

Tahun 2015, jumlah uang palsu yang ditemukan di masyarakat sebanyak 3.009 lembar. Jumlah uang palsu terus bertambah di tahun 2016 karena pihaknya menemukan uang palsu sebanyak 3.766 lembar. Uang pecahan yang paling banyak dipalsukan adalah pecahan kertas Rp100.000.

Ia menjelaskan, uang pecahan baru yang mereka keluarkan sebanyak tujuh lembar uang kertas dan empat pecahan uang logam. Uang ini memiliki kelebihan berupa color shiftry, yaitu tinta akan berubah warna ketika dilihat dari sudut yang berbeda. Uang baru ini juga menggunakan teknologi rainbow feature.

"Teknologi Ultra Violet Feature juga disematkan yaitu ketika disinari ultra violet akan muncul desain tersimpan," terangnya.

Rainbow Feature adalah teknologi dimana apabila uang tersebut dilihat dari sudut tertentu akan muncul angka yang tersembunyi. Angka-angka tersebut muncul dengan warna yang sangat variatif. Uang kertas baru ini juga dibuat dengan teknik latent image, dimana ketika digoyang akan keluar tulisan logo Bank Indonesia.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta, Hilman Tisnawan mengakui tren pemalsuan uang memang mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir. Tetapi hal tesebut tidak menunjukkan peningkatan jumlah kejahatan pemalsuan uang. 

BI Perwakilan NTT Sosialisasi Uang Rupiah | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

Kepala BI Perwakilan NTT, Naek Tigor Sinaga mengatakan, sosialisasi peluncuran uang baru NKRI terus disosialisasi setelah adanya peluncuran oleh Presiden RI pada 19 Desember 2016.

Daerah yang menjadi sasaran sosialisasi antara lain Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Turut hadir pada sosialisasi ini Direktur Umum Bank NTT, Adrianus Ceme dan beberapa staf dari BI Perwakilan NTT dan Bank NTT.