Terbaru

Kementan Kembangkan Zonasi Wilayah Produksi Cabai

Zonasi wilayah produksi cabai akan memangkas rantai distribusi | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Solo

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Solo


Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Spudnik Sujono mengatakan, melambungnya harga cabai yang terjadi belakangan ini merupakan dinamika sistem pasar pada umumnya.

Dia mengatakan, untuk mengintervensi harga di pasaran saat ini, Ditjen Hortikultura menjual komoditas cabai merah Rp 22.000 per kilogram (kg) atau di bawah harga pasar saat ini.

"Inilah dinamika di lapangan, tidak bisa kita buat semua landai (harganya), memang haknya pedagang mau jual berapa dan memperoleh keuntungan," ujar Spudnik saat konferensi pers di Kantor Ditjen Hortikultura, Pasar Minggu, Jakarta (28/12/2016).

Menurutnya, saat ini proses jual beli di pasar tidak hanya teori kebutuhan dan pasokan, tetapi ada pihak lain yang menentukan harga di pasaran dan permasalahan utamanya ialah faktor distribusi bahan pangan pokok.

"Kami jual cabai merah keriting Rp 22.000 per kg, kalau pedagang mau beli dan menjual kembali Rp 40.000 atau Rp 60.000 per kg tidak ada yang bisa melarang, itu hak pedagang, dan tidak bisa ditangkap," tegasnya.

Untuk pengembangan zonasi produksi bawang merah ada di 32 titik di Jawa dan pada 2017 akan meluas hingga ke Pulau Kalimantan dan Kepulauan Maluku sebagai buffer zone di Kawasan Timur Indonesia.

Dengan itu, saat ini pihaknya tengah mengoptimalkan program buffer zone atau zonasi wilayah produksi di berbagai wilayah Indonesia.

Hal ini untuk mengatasi kebutuhan di wilayah setempat dan memangkas rantai distribusi sehingga tidak lagi dipasok dari pulau Jawa.

"Ke depan, saya diminta untuk mengembangkan zonasi di Kalimantan, Maluku untuk memenuhi kebutuhan penduduk setempat dan hingga ke Papua," tambahnya.

Sedangkan untuk zonasi untuk pulau Sumatera dikembangkan di Kabupaten Simalungun Sumatera Utara, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan Sumatera Barat, Kabupaten Kerinci Jambi, Kabupaten Tanggamus dan Lampung.

Dari data pagu anggaran Ditjen Hortikultura pada tahun 2017, untuk program zona produksi kawasan bawang merah dianggarkan Rp 280 miliar dengan luas lahan 7.000 hektar lahan dan program zona produksi kawasan aneka cabai dianggarkan Rp 457 miliar dengan total luas lahan 15.000 hektar.

Dia menegaskan, dengan pemeretaaan penyebaran pertanaman di setiap regional, maka akan mengatasi persoalan distribusi dan ketidakseimbangan pasokan.

"Karena dari pulau Jawa masih pasok ke mana-mana, dan ini akan dioptimalkan dengan Toko Tani Indonesia (TTI) yang akan langsung menampung dan menjual hasil produksi petani," pungkasnya.

Awal Tahun, Kementan Pastikan Stok Bawang dan Cabai Aman | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Solo

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Solo


Dirjen Hortikultura Spudnik Sudjono menyampaikan dengan penerapan pola tanam, luas penanaman aneka cabai per bulan mencapai lebih dari 12.000 ha, denga total luas tanam sepanjang tahun mencapai 151.182 ha.

Kementerian Pertanian memastikan stok bawang merah dan aneka cabai pada awal tahun mendatang berada di level aman. Untuk itu, perlu ada upaya menjaga tata niaga sehingga harganya di tingkat konsumen tidak melonjak.

Spudnik merincikan untuk bulan Desember ini, ada panen cabai besar sebanyak 84.684 ton. dengan kebutuhan flat sebesar 76.427, maka produksi bulan ini mencatatkan surplus sebanyak 8.212 ton.

Adapun, luas tanam bawang merah per bulan rata-rata mencapai 11.000 ha, dan luas tanam sepanjang tahun 132.247 ha.

“Memang la nina mempengaruhi produksi, karena proses pematangan lewat fotosintesis tidak maskimal. Tapi neracanya masih positif [surplus],” jelas Spudnik dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (28/12/2016).

Data Ditjen Horti juga mencatat ketersediaan bawang merah pada Desember mencapai 108.554 ton. Dengan kebutuhan sebesar 82.169 ton, maka produksi bawang merah pada Desember mencatatkan surplus sebesar 26.385 ton.

Sementara itu, untuk persiapan kebutuhan di bulan Januari, Spudnik menyebut akan tersedia panen bawang merah sebesar 107.417 ton. Dengan kebutuhan sebesar 95.614 ton, produksi bawang merah pada Januari tercatat surplus 11.776 ton.

Spudnik merincikan untuk bulan Desember ini, ada panen cabai besar sebanyak 84.684 ton. dengan kebutuhan flat sebesar 76.427, maka produksi bulan ini mencatatkan surplus sebanyak 8.212 ton.

Pada Januari mendatang, kebutuhan cabai besar memang meningkat menjadi 92.101 ton, namun produksi yang tersedia mencapai 94.368 ton.

Harga Cabai Naik, Kementan: Hak Pedagang Mau Jual Berapa | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Solo

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Solo


Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Spudnik Sujono mengakui, pihaknya kesulitan dalam melakukan intervensi dalam menekan melambungnya harga bahan pokok tersebut.

Belakangan ini harga cabai mengalami kenaikan. Pemerintah meyakini melonjaknya harga cabai lantaran tingginya curah hujan.

"Inilah dinamika di lapangan, tidak bisa kita buat semua landai (harganya), memang haknya pedagang mau jual berapa dan memperoleh keuntungan," kata Spudnik saat konferensi pers di Kantor Ditjen Hortikultura Jakarta Selatan, Rabu (28/12/2016).

"Kami jual cabai merah keriting Rp22 ribu per kg, kalau pedagang mau beli dan menjual kembali Rp40 ribu atau Rp60 ribu per kg tidak ada yang bisa melarang, itu hak pedagang, dan tidak bisa ditangkap," ungkapnya

Dirinya mengatakan, meski cabai yang dibeli dari petani harganya tidak terlalu mahal, namun kerap kali setelah beredar di pasaran harga cabai mengalami peningkatan harga yang signifikan. Namun menurut dia hal itu merupakan hal wajar. Pasalnya para pedagang berhak menentukan harga sesuai keinginannya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya berupaya untuk mengoptimalkan program buffer zone atau zona wilayah produksi yang tersebar di berbagai wilayah yang menjangkau seluruh Indonesia.

Sementara itu, untuk zonasi Sumatera, dia menambahkan akan dikembangkan di Kabupaten Simalungun Sumatera Utara, di Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan Sumatera Barat, di Kabupaten Kerinci Jambi, di Kabupaten Tanggamus dan Lampung. 

Untuk pengembangan zonasi produksi bawang merah, dirinya mengatakan ada di 32. Kemudian untuk tahun 2017 akan diperluas hingga Kalimantan dan Maluku sebagai buffer zone di Kawasan Timur Indonesia. 

"Ke depan, saya diminta untuk mengembangkan zonasi di Kalimantan, Maluku untuk memenuhi kebutuhan penduduk setempat dan hingga ke Papua," sambungnya.