Terbaru

Cara Tingkatkan Keamanan Selepas 1 Miliar Akun Yahoo Diretas

Ganti password tak cukup untuk mengamankan akun di dunia maya | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Medan



Ahli Keamanan Graham Cluley, sebagaimana dimuat BBC, menyarankan agar tak hanya mengganti password Yahoo. Namun juga, mengganti password di seluruh media sosial atau akun online lain yang terhubung dengan Yahoo. Di samping itu, pertanyaan keamanan pun harus diperbarui.

Yahoo mengatakan setidaknya 1 miliar akun penggunanya jadi korban peretasan sejak Agustus 2013. Bukan kali pertama, sebelumnya perusahaan internet tersebut pernah mengalami peretasan cukup parah, yakni 500 juta akun dibobol. Kalau kamu adalah salah satu pengguna Yahoo, cara meningkatkan keamanan akun mungkin jadi yang langsung terlintas.

Misalnya dengan mengirimkan kode masuk ke ponsel melalui pesan singkat. Sementara itu, pakar keamanan Universitas Surrey Profesor Alan Woodward mengungkap, ganti password tak cukup untuk mengamankan akun di dunia maya. Ia menyarankan untuk tak memasukkan data pribadi ke dunia maya.

"Pastikan kamu membedakan password satu akun dengan akun lainnya," ucapnya. Untuk lebih mempermudah, Cluley menyarankan untuk mencoba program manajer password seperti Password Chef, LastPass, atau 1password. Lalu, bisa juga dengan mengaktifkan autentifikasi dua tahap.

"Seperti seorang ratu, saya memiliki dua tanggal lahir, tanggal lahir di dunia maya dan tanggal lahir asli. Saya juga tak memasukkan alamat asli ke akun online, kecuali untuk keperluan finansial," tutur Woodward. Di samping itu, akun Yahoo memungkinkan pengguna melihat aktivitas terbaru akun miliknya.

Data Pengguna Yahoo Dijual Di Black Market dengan Harga US$ 300 Ribu Saja? | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Medan



Diketahui dalam kasus tersebut peretas sudah melakukan penjualan di pasar gelap, dalam penjualan tersebut dengan harga yang mencapai US$300 ribu atau sekitar Rp 4 miliar. Hal ini telah diungkapkan oleh Andrew Komarov (Chief Intelligencu Officer, InfoArmor).

 Database yang telah berisikin informasi pribadi dari para penggunanya yang telah menggunakan Yahoo yang telah dicuri, dalam kasus peretasan yang telah dalakukan ini merupakan kasus peretasan yang paling besar.

Dilansir dari Digital Trends, Komarov yang telah memberikan pernyataan pada Agustus lalu, beberapa peretas yang berasal dari Eropa Timur yang telah membuat kelompok dengan nama “Group E”, yang telah melakukan penjualan database para pengguna Yahoo di pasar gelap.

Komarov adalah orang yang telah menangani adanya ancaman-ancaman yang terjadi pada bidang keamanan siber, begitu juga telah melakukan pengawasan adanya pasar dalam dunia maya yang telah diisi oleh para peretas, mata-mata, dan juga penitu online.

Komarov yang juga telah mengatakan kalau dirinya juga sudah memiliki salinan dari database Yahoo yang telah dijual tersebut. Dan pihaknya dengan adanya ini telah mengirimkan kepada aparat pemerintah dan militer pada sejumlah negara, yaitu Amerika Serikat, Australia, Kanada, Inggris, dan Uni Eropa.

Diketahui, database yang telah dijual oleh para peretas tersebut telah dibeli oleh dua orang spammer, dua orang tersebut juga terdapat pada daftar yang ada di ROKSO ( Register of Known Spam Operations) dan juga ada seorang mata-mata Internasional dengan harga US$ 300 ribu.

Ada alasan kenapa Komarov dan perusahaannya, InfoArmor, tidak langsung melakukan komunikasi dengan pihak Yahoo. Dirinya beranggarapan kalau informasi yang telah disampaikan diragukan, karena informasi tersebut dapat merusak Akuisisi dengan Verizon.

“Setelah aparat memverifikasi keabsahan dokumen kasil curian itu, mereka menghubungi Yahoo untuk menyatakan kekhawatiran mereka,” katanya.

Dalam kejadian kasus ini, adalah hal yang telah dialami dua kali lebih besar jumlahnya, hal ini dibanding dengan kejadian sama yang telah terjadi pada tahun 2014, diketahui telah menimpa 500 juta akun pengguna Yahoo.

Sebelumnya diketahui, Yahoo yang telah mengalami kebobolan data informasi penting yang telah dimiliki oleh 1 miliar penggunanya. Pencurian data yang telah dilakukan ini terjadi pada tahun 2013, namun hal ini baru diketahui dan telah diumumkan pada pekan lalu.

Data Rahasia Pengguna Yahoo Dijual di Pasar Gelap, Punya Anda? | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Medan



Dilansir dari The Inquirer, Selasa 20 Desember 2016, data pengguna yang dicuri itu dijual seharga US$300 ribu atau Rp4,02 miliar di pasar gelap.

Sebuah kabar mengagetkan berembus dari raksasa teknologi, Yahoo. Tersiar kabar bahwa ada penjualan password pengguna Yahoo yang dicuri dan dijual murah di pasar gelap.

Chief Intelligence Officer di InfoArmor, Andrew Komarov, mengatakan tips pembeli, termasuk dua di antaranya adalah spammer dan entitas yang berkaitan dengan spionase.

Sekadar informasi, Yahoo mengakui ada 500 ribu akun yang dicuri dan kini 1 miliar akun berpotensi untuk disusupi. Data yang dicuri itu berupa nama, alamat e-mail, nomor telepon, tanggal lahir.

Dia mengatakan, informasi pribadi, kontak, isi pesan, hal-hal kesukaan, kalender, dan rencana bepergian menjadi elemen penting bagi mata-mata,” kata dia.

Para peretas itu mengincar akun untuk mengancam keamanan nasional. Misalnnya, staf pejabat Gedung Putih, agen FBI, dan pengguna Yahoo di setiap cabang militer Amerika Serikat.

Database itu masih dijual. Tapi, harganya jatuh sebesar US$20 ribu (Rp268,14 juta) ketika Yahoo memaksa setel ulang password. “ Pembajakan Yahoo membuat spionase menjadi sangat efisien,” kata Komarov.

Selain itu, ada lebih dari 150 ribu data pribadi pemerintah Amerika Serikat dan pegawai militer yang terdapat dalam database.